Langit,
Orang tahu warna biru,
Tingginya sukar dicapai,
Letaknya di atas awan
Atasnya apungan syurga
Tempat istirehatnya para aliman.
Tapi tak siapa tahu
Selagi tiada yang terbang ke sana.
Tiram,
Orang tahu indah mutiaranya,
Putih berkilau, mulus dan ternilai
Letaknya jauh terperosok ke dasar
Dihambur isi laut baru terpegang.
Tapi tak siapa tahu
Andai tiada yang selam ke sana.
Aku,
Orang tahu gerangannya siapa,
Cuma manusia pada harfiahnya
Ada emosi, masih bernyawa
Kekadang jelek sungguh perangainya.
Tapi tak siapa tahu
Andai tiada yang berenang ke dasarnya.
Wednesday, March 24, 2010
Monday, March 15, 2010
Khilaf
Sunday, March 8, 2009
Ngomelan
Aku perlu duduk dalam kuantum vakum,
Supaya setiap huruf,
Setiap ayat,
dan intepretasi yang aku sedang tuntuti
akan kekal sehingga menjelangnya exam esok.
Sungguh aku perlu halusinasi kepada diri sendiri,
tanpa mobil,
tanpa visual laptop
tanpa dengungan suara manja sang teman yang berbicara manja dengan kekasihnya.
FOKUS!
Supaya setiap huruf,
Setiap ayat,
dan intepretasi yang aku sedang tuntuti
akan kekal sehingga menjelangnya exam esok.
Sungguh aku perlu halusinasi kepada diri sendiri,
tanpa mobil,
tanpa visual laptop
tanpa dengungan suara manja sang teman yang berbicara manja dengan kekasihnya.
FOKUS!
Petang
O Rayleigh scatter,
Si pencetus fatamorgana tatkala matahari mula mengalah di ufuk barat.
Aku berterima kasih kepada kehebatanmu
Kerana menghasilkan petang yang cantik,
Warna merah dan jingga bertaburan di kaki-kaki langit dan burung mula bergentayangan di udara mencari tempat untuk beradu,
O aku harapkan kau bisa lebih panjang hayatnya,
Agar lagi lama aku boleh menatap merah jinggamu,
Agar lebih lama aku memuji kecantikkanmu!
Si pencetus fatamorgana tatkala matahari mula mengalah di ufuk barat.
Aku berterima kasih kepada kehebatanmu
Kerana menghasilkan petang yang cantik,
Warna merah dan jingga bertaburan di kaki-kaki langit dan burung mula bergentayangan di udara mencari tempat untuk beradu,
O aku harapkan kau bisa lebih panjang hayatnya,
Agar lagi lama aku boleh menatap merah jinggamu,
Agar lebih lama aku memuji kecantikkanmu!
Wednesday, January 7, 2009
Kalau saja
Kalau sajaku berani, mahu saja aku siat kulitmu untuk aku korek keluar isi jantungmu, dan aku perhamparkan di atas bumi untuk aku perlihatkan kebenaran yang kau cuba selindungkan.
Kalau saja aku berani, mahu saja kau belah otakmu dan seksakanmu dengan pisau belati yang maha tajam. Biar kau melalak memohon ampun maaf dariku untuk aku tangguhkan segala kekejamanku yang mencoba mengetahui kebenaran darimu.
Kalau saja,
Kalau saja,
Kalau saja,
Ah!
Kalau saja kau bisikkan kebenaran di telingaku, bukankah mudah!
Kalau saja aku berani, mahu saja kau belah otakmu dan seksakanmu dengan pisau belati yang maha tajam. Biar kau melalak memohon ampun maaf dariku untuk aku tangguhkan segala kekejamanku yang mencoba mengetahui kebenaran darimu.
Kalau saja,
Kalau saja,
Kalau saja,
Ah!
Kalau saja kau bisikkan kebenaran di telingaku, bukankah mudah!
Sunday, December 21, 2008
Si pelayar duduk di hadapan alam maya,
ingin sekali menghirup angin dari negeri di bawah bayu
berbau laut,
bakau,
kebingitan pasarnya
aku sangat rindukan langit membiru di negeri aku
dan ya,
aku akan kembali
saat matahari menebar emasnya
di dada langit 23 ini
mari!
peluklah aku!
berbau laut,
bakau,
kebingitan pasarnya
aku sangat rindukan langit membiru di negeri aku
dan ya,
aku akan kembali
saat matahari menebar emasnya
di dada langit 23 ini
mari!
peluklah aku!
Friday, December 19, 2008
Infiniti kesyukuran
Awan indah itu sudah tiba
Ditiupkan oleh angin kabar untuk seorang hina
Bahawa telah datang kepadanya
Satu nikmatNya yang dia tidak pernah terbayang sedikit pun akan tersentuh dengan jari-jemarinya
Yang hanya segar dalam anganan
Tapi kini telah tersedia sebagai hidangan lazat dari Tuhannya
Sebagai senyuman indah nikmat dari Sorga
Dikepalnya penuh kesyukuran
Enggan dilepaskan
Kerana terasa nikmat itu sangat berbeda dengan sebelum ini
Ajaib, enggan dipercayai
Namun itu hakikatnya
Lantas dia berzikir, memujiNya
"Tuhan,
Sujudku padaMu
Kuhamburkan segala kesyukuran
Atas segala nikmatMu
Terima kasih Tuhan untuk yang satu ini
Dan terima kasih atas segalanya!"
Ditiupkan oleh angin kabar untuk seorang hina
Bahawa telah datang kepadanya
Satu nikmatNya yang dia tidak pernah terbayang sedikit pun akan tersentuh dengan jari-jemarinya
Yang hanya segar dalam anganan
Tapi kini telah tersedia sebagai hidangan lazat dari Tuhannya
Sebagai senyuman indah nikmat dari Sorga
Dikepalnya penuh kesyukuran
Enggan dilepaskan
Kerana terasa nikmat itu sangat berbeda dengan sebelum ini
Ajaib, enggan dipercayai
Namun itu hakikatnya
Lantas dia berzikir, memujiNya
"Tuhan,
Sujudku padaMu
Kuhamburkan segala kesyukuran
Atas segala nikmatMu
Terima kasih Tuhan untuk yang satu ini
Dan terima kasih atas segalanya!"
Subscribe to:
Posts (Atom)
